Posts Tagged ‘fiksi’

Contoh Kalimat Ambigu

Thursday, June 10th, 2010

Di sebuah Sekolah Dasar Bintang Di Surga…

Ibu Guru: Ayo coba Maya. Berilah contoh kalimat ambigu!

Maya: Eee…Anak Presiden yang gemuk itu suka bernyanyi.

Ibu Guru: Bagus. Coba sekarang Nazriel.

Nazriel: Anu Bu Guru…Tari telanjang!

Dua Hobi Baru

Saturday, January 17th, 2009

KAN kuceritakan pada kalian dua hobi baruku. Entahlah apa kalian juga melakukan hal yang sama denganku.

Dua hobi yang menyita hari-hariku:melamun dan senyum-senyum sendiri.

Sudahlah

Saturday, December 27th, 2008

LUAR biasa. Tapi aku harus bilang:sudahlah. Apa yang kalian cari di sini. Ilmu? Kesenangan batin? Sekadar menertawakan? Mencaci lalu memaki. Sudahlah. Tak ada sesuatu yang bermanfaat. Semua hanya kosong tak berisi.

Hebat. Ternyata kalian masih tak mau mendengar perkataanku. Berkunjung dan membatin:oh aku bersyukur ternyata masih ada orang yang lebih gila dariku. Cukup. Berhenti sampai di sini. Arahkan kursormu ke pojok kanan atas. Tutup.

Cemerlang. Tak ada. Aku bilang tak ada. Kenapa kalian masih memaksa. Aku benar-benar tak menyembunyikan apapun di sini. Paling tidak aku tak menyembunyikan yang kalian cari:kesenangan hidup. Sudahlah, kenapa masih tetap bertahan di sini.

Cepat pergi. Aku tak mau berhitung 123 untuk mulai mengusirmu.

Apa? Kalian bilang aku orang aneh? Hahaha. Aku senang menjadi orang aneh. Orang yang berbeda dengan yang lain, tidak standar. Sudahlah kenapa masih saja bertahan sampai ke kalimat ini. Tak ada ilmu tak ada guru. Ok sekarang kalian mulai mengernyitkan dahi:orang gila. Ok sekarang kalian tertawa. Silakan.

Fantastis. Daya tahan kalian sungguh luar biasa. Aku curiga ini tak lebih dari rasa syukur kalian melihat ada orang aneh yang sedang hilang ingatan, gila, tak waras dan mendekati kerusakan otak akut. Aku percaya itu.

Hentikan analisa ilmu-ilmu yang kau pelajari itu. Kehidupan itu realis bukan teoritis. Kehidupan itu teoritis bukan realis. Idealis amis bengis. Nah, aku bilang apa tadi. Tanggalkan apa yang sudah kau pelajari tadi. Telanjang.

Telanjang. Polos tanpa embel-embel apapun. Putih lalu jadi hitam. Lalu ada suara-suara sumbang berkumandang menantang terkadang jalang.

Heran. Sungguh aku sedang berada di puncak rasa keheranan. Apa yang membuat kalian masih berada di sini. Apa yang kalian cari. Bukankah sudah aku bilang kalau…ah sudahlah.

Coba lihat ada mentari yang bersinar. Terkadang bersinar terang, terkadang redup tertutup awan. Tapi dia ada. Matahari ada. Terlihat atau tidak terlihat itu masalah wujud. Tapi dia ada. Menghilang atau menampakkan diri itu masalah wujud. Tapi dia ada.

Luar biasa. Kalian tetap bertahan. Kalian memang hebat. Hebat dalam menertawakan dan memberi analisa kehidupan orang lain secara asal-asalan. Hebat. Cemerlang. Fantastis.

Pelacur juga tahu siapa yang jadi pecundangnya. Aku.

S[3]lingkuh

Friday, February 9th, 2007

“Sayang…sayang…” suami Malda tampak berusaha membangunkan isterinya
“Kamu nggak kenapa-kenapa kan?” rona kecemasan menggelayut di wajahnya.
“...Hhh” mata Malda memerah “Di mana aku?”
“Kamu mimpi sayang”
“..Hhhh” pucat, seketika keringat mengucur deras di pelipis wajah mulusnya.

03:07 pagi. Suasana masih sangat gelap. Hari itu cuaca begitu dingin, tidak sehangat sebelumnya. Sementara itu Malda mulai bisa menenangkan dirinya. Ia enggan untuk menceritakan apa isi mimpi tersebut kepada suaminya. Walau Malda benar-benar mencintainya, tapi malam ini terasa berat baginya untuk sekedar berbagi cerita.

“Tenang ya sayang, aku nggak bakal mungkin ninggalin kamu sendirian”
“Sayang…” desah Malda “Boleh aku tanya sesuatu kepadamu…?”
“Apa sayang, nggak biasanya kamu ngomong seperti ini”
“Kamu masih sayang kan sama aku…???”
“Mhhhhh…” membelai rambut Malda “Kamu ini ngomong apaan sih, jelas sampai kapan pun aku tetap akan mencintaimu, sampai kapan pun”
“Daaannn…” Malda mulai ragu “Dan kamu juga akan tetep sayang jika sesuatu terjadi padaku”
“Sayaangg…kamu mulai aneh deh”
“Sebenarnya…aku…” bibirnya tertutup, diam tak melanjutkan.

Bersambung…

Lihat Juga :