
SEORANG penyiar radio mengeluh karena sudah jarang −nyaris tidak ada lagi− pendengar yang mengirim surat pembaca via pos. Zaman berubah, era sms, email telah menggantikannya.
Ada suatu masa dimana saya mengalami kirim-kiriman salam −ya! salam-salam yang itu− lewat secarik kertas. Norak ya?
Sebuah radio malahan mengambil untung dengan menjual kertas khusus salam-salaman. Bagi yang tidak memakai kertas tersebut berarti salam-salamannya tidak akan dibaca. Curang!
Lalu saya geli kalau mendengar kembali gaya salam-salaman era dulu. Salam jitak, lam kompak slalu, kirim salam bwt Feri yang kiyut dsb.
Era yang lebih jadul tentu akan berbeda. Cewek Virgo di Lembah Penantian kirim buat Cowok Aries di Gubug Cinta, monitor radio blablabla. Continue reading →
