
KEMERIAHAN yang berotasi setiap tanggal 17 Agustus. Halaman depan rumah saya yang tak seberapa itu dapat dipastikan penuh dengan berbagai sepeda, baik bermotor maupun berkayuh biasa. Karnaval 17-an, masih menjadi daya pikat bagi sebagian orang.
Sempat saya kepikiran −saking banyaknya kendaraan di depan rumah− untuk dijadikan lahan parkir sekalian. Cari untung. Lumayan banget lho. Misal per kendaraan dipungut Rp.1.000,- saja, sudah bisa untuk beli celana dalam baru kan? Motif bunga bangkai lucu kali ya?
Ini memang resiko punya rumah di pinggir jalan.
Keinginan iseng untuk membuka parkiran itu sempat terwujud saat halaman depan rumah saya (iya deh rumah orang tua saya) bertambah lebar pasca gempa beberapa tahun lalu.
Waktu itu ada pentas apa saya lupa, semacam hiburan −dengan banyak artis handal tentunya− disaat gundah dan resah. Satu kampung menjadi tukang parkir dadakan. Sungguh melelahkan tapi jadi tahu betapa tidak enaknya pekerjaan tukang parkir itu.
Dulu. Dulu banget, saat Sri Sultan HB IX meninggal dunia, kerumunan orang teramat banyaknya. Penghormatan terakhir dari rakyat terhadap rajanya. Tak ada yang saya ingat karena masih kecil. Kecuali lewat lembaran foto-foto prosesi pemakaman yang entah ada dimana sekarang.
Tahun 2006 kemeriahan karnaval 17-an sempat terhenti. Tahun 2007 sepertinya saya tidak menontonnya, entahlah saya lupa. Tahun ini mungkin akan ada pesta lagi.
Serentetan pesta murah meriah bagi masayarakat kecil seperti saya. Kecil? Ngaca dong! Perut gaya 6 bulanan kok dibilang kecil!
© Ilustrasi: http://daniarwikan.blogspot.com/
3 comments ↓
huwe…yg biruuuuuuuuu bkn my shogun kann?
truss..truss yg ijo?
yg sebelah kanannya ijo??
iyah yg ijo?, bkn kan??
aku sekadar nyomot punya orang, apakah itu motor kita? *ikut2an nanya*
Leave a Comment