Kisah Pedagang Mie Ayam

SEKARANG warung mie ayam itu telah tutup.

Tapi saya masih menunggu di depan rumah, kalau-kalau ada gerobak mie ayam lewat dengan citarasa yang ramah, bukan sekedar rupiah. Dan saya tak ragu untuk berteriak “Pak, mie ayam siji !”

.::.

Ada seorang penjual mie ayam yang lewat di kampung saya. Nampaknya masih baru. Iseng saya mencobanya. Kabar kaburnya memang lumayan enak. Satu mangkok saya pesan. Kuahnya bening, bersih pula penyajiannya. Taburan bawang goreng dan sedikit seledri menggelayut mesra diantara pergumulan mie yang mengeluarkan asap hangat nan nikmat. Satu sendok kuah mie saya coba. Nyammy!

Jarang-jarang ada mie ayam yang lewat depan rumah saya, bisa seenak ini. Mie ayam itu pun jadi kondang dan laris.

Tak terasa waktu bergulir dengan cepat. Usaha mie ayam itu sudah sangat maju. 5758. Dia pun mengontrak sebuah tempat yang kebetulan deket dengan rumah saya. Awal-awal dia berjualan, citarasa mie yang dia buat masih sama dengan saat dia berjualan keliling dengan gerobak tuanya itu. Dagangannya laris manis bak mobil Jaguar.

Saya kembali ingin mencoba mie lezat itu. Tapi apa yang terjadi kemudian ? SADIKERAT. Saya dibuat kecewa berat. Citarasa nikmat itu ternyata telah lenyap. Kuah bening segar itu menghilang. Penyajiannya asal-asalan. Kotor. Nggak ada lagi bawang goreng dan seledri cincang. Ada tapi cuma kadang-kadang.

Pelayanannya semakin tinggi hati karena semakin banyak yang harus dilayani. Tidak ada lagi senyum ramah nan menggugah hati.

Saya rindu kembali saat-saat dia masih keliling kampung pake gerobak dulu. Kangen dengan segala kesederhanaan dan keramah tamahan nya. Apakah Tuan Rupiah yang mengubah semua ini?

3 comments ↓

#1 veta on 24.04.08 at 10:25

udah nyoba mie ayam yang letaknya utara terminal giwangan itu?

#2 Feri Gunawan on 24.04.08 at 10:37

sudah. lumayan enak tuh
yang Virgo enak juga lho. deket ringroad :)

#3 anggit on 27.05.08 at 19:53

Laris manis bak mobil Jaguar?
Hmmm….

Leave a Comment