JUDUL tersebut di atas adalah sebuah pertanyaan retoris dan saudaraku semuanya pasti setuju menjawab:Tidak!
“Ya lebih enak di sini, apa-apa sudah ada, tempatnya nyaman, daripada di rumah sendiri nanti kebanjiran lagi” Begitu kira-kira pernyataan salah satu korban banjir Jakarta pada sebuah stasiun televisi kemarin. Tidak seluruhnya salah karena memang keadaan belum 100% pulih benar. Tapi berdasarkan pengalaman saya sebagai seorang pengungsi -halah- saat gempa Jogja tahun lalu, hal tersebut dapat dibenarkan juga.
Sekali lagi yang namanya ngungsi itu tidak ada enaknya sama sekali. Kalaupun ada enaknya, kata enaknya itupun harus diapit tanda petik. Lha gimana tidak enak? Tetangga saya, dengan nada bercanda bilang kalo peristiwa gempa dulu berat badannya justru akan bertambah. Makan tiga kali sehari, masih bisa nambah lagi dan masih banyak yang nggak kemakan… Waktu itu ada satu posko makanan dari Indomie yang menyediakan mie gratis bagi warga korban gempa. Kebetulan waktu itu saya turut mencobanya. Kalo kata tetangga saya, rasa mie nya itu beda bila dibandingkan dengan yang bikin sendiri. Mak nyuss ! Walah saya ini kok malah wisata kuliner ya, lagi berduka juga. Tapi ya memang bener juga sih, pemandangan yang saya lihat setiap sore di depan posko saya yaitu adalah serombongan ibu-ibu dengan membawa rantang menuju ke stand Indomie tadi, walaupun stok bantuan mie sebenarnya masih numpuk di posko masing-masing.
Semenjak kedatangan pertama saya di stand Indomie tadi, malam berikutnya tempat mengungsi saya didatangai oleh petugas dari stand tersebut. Memang saat pertama berkunjung, sempat dimintai data jumlah pengungsi dan lokasinya. Tapi waktu itu bener-bener tak menyangka kalo jumlah mie yang dikasih sebegitu banyaknya. Sebaskom besar mi yang sudah matang! Mblenger! Padahal kami, pada waktu itu sudah makan malam, hasil bantuan juga. Halah, ‘enak’ to jadi pengungsi. Walhasil mie tersebut dibagi-bagikan lagi ke posko-posko lainnya.
Itu baru di posko saya lho. Belum posko tetangga desa saya yang terkenal mewah itu. Betapa tidak mewah, lha wong makan 3x sehari dengan menu cihui pasti didrop langsung dari kota lain, nggak kurang malah banyak yang sisa. Sisanya pun pernah mampir ke tempat saya…hehe.
Jadi, masih pada mau ngungsi po? Walau makan tidak enak, tidur pun tak nyenyak yang penting di rumah sendiri. Lha kalo nggak punya rumah? Ya ngungsi lagi. Betul begitu Saudaraku?
0 comments ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.
Leave a Comment