Entries From February 2007 ↓

Beda Presiden Beda Lagunya

PADA generasi Bung Karno, musik yang hingar-bingar aka musik ngak ngik ngok dilarang keras dan para musisi yang memainkannya dipenjara. Koes Bersaudara salah satu korbannya. Bang Rhoma pun ‘mempersembahkan’ lagu Haram nya buat masa tersebut “Kenapa semua yang enak-enak itu dilarang…”

Zaman Pak Harto beda lagi. “Pengalaman masa lampau mengajarkan bahwa kesulitan apa pun yang dihadapi, bangsa Indonesia melewatinya. Dengan bekal itu, kita percaya badai pasti berlalu…” *)dari Kompas. Sehingga lagu Badai Pasti Berlalu menjadi soundtrack periode ini, walau badai itu masih belum berlalu sampai sekarang.

Banyak kemajuan yang didapat dalam periode Pak Habibie. Bahkan kalo kata orang cenderung sangat maju alias kebablasan. Salah satunya adalah lepasnya Timor Timur dari NKRI. Tak lain dan tak bukan, lagu yang tepat untuk beliau adalah Hilang Permataku…“Hilang Permataku, hilang harapanku…yang kupupuk sejak dulu kala…”

Diam adalah emas. Diam adalah Megawati Soekarno Putri. Dan grup band Potret nggak mau diam untuk menyanyikan lagu Diam nya “Kau marah padaku, aku diam. Kau maki diriku, aku diam.” Diam, diam dan terus diaammm…

Gus Dur. Simpel, nggak mau neko-neko dan selalu dikelilingi guyonan yang bisa jadi bumerang bagi dirinya sendiri. Sehingga saat Pak Dhe Chrisye menyanyikan lagu Untukku “Walau ke ujung dunia pasti akan kunanti…Meski ke tujuh samudera pasti ku kan menunggu”, Gus Dur langsung menyahutnya dengan “Gitu aja kok repot!

Lupakan romantisme ala Pelangi Di Matamu nya Jamrud “Ada pelangi di senyummu yang membuat lidah ku gugup tak bergerak….” Walaupun intro awal lagu ini juga bisa dinyanyikan buat Pak Harto “Tiga Dua tahun. Aku berkuasa. Untuk siapa. Ya untuk keluarga, bukan rakyat jelata. Aku kaya raya” Periode SBY identik dengan banjir. Bukan monopoli air semata tapi juga berlaku buat bencana, korupsi, air mata dsb. Kira-kira lagu apa ya yang tepat buat periode ini ?

Iri Hati

RUMPUT tetangga selalu lebih hijau. Itu kalo dilihat dari kejauhan, coba lebih dekat lagi. Yak, benar kan apa kata saya. Nggak jauh beda kok rumputnya, kita aja yang suka iri.

Masih nggak percaya. Sekarang coba liat lagi rumputnya. Sama-sama hijau kan? Jadi yang “lebih hijau” itu yang mananya ya?

Jangan-jangan rumput tetangga Anda sudah dikasih pewarna tekstil sehingga tampak lebih hijau?!

Ih! Cuma kosmetik belaka to.

Apa yang nampak (nya dari pacar Abang) di luar belum tentu menggambarkan apa yang di dalamnya.

Sekarang coba masuk ke dalam rumahnya. Perhatikan seisi ruangannya. Apakah ada yang begitu mengganggu Anda?

Dia punya tipi, Anda tidak. “Besok numpang nonton Rosalinda lagi yah…”

Dia punya mobil, Anda punya motor. “Eh, tetangga. Kemarin macet ya? Lain kali nebeng aku aja po?”

Selesai kan?

Jadi rumput tetangga siapa lagi yang lebih hijau dari rumput Anda sendiri? “Hey, jenis rumputnya apa sih?”