Timbilen dan Budaya Ngintip

eye

SAYA ’salut’ dengan pergerakan yang cukup cepat dari sebuah kertas kecil nan kumal, dari tangan satu ke tangan lainnya, pada sebuah ruang kelas di mana di luar ruang kelas tersebut terpampang blekbor dengan tulisan kapur tulis putih berbunyi :“Harap Tenang Ada Ujian” *Diem nggak, lagi ujian nih*
Yaa, itulah yang disebut mencontek!. *mencontek…menconteeek temaaaann…*

Ada salah satu temen SMA saya dulu, kebetulan namanya di awali dengan huruf A, pinter, juara pararel satu sekolah, baik hati dan mau berbagi. Dialah sang produsen jawaban di setiap ujian.

Secara beliau, si Mr.A ini, duduk dengan urutan paling depan, maka mau tak mau proses distribusi jawaban harus benar-benar rapi agar seluruh isi kelas mendapat jatah yang sama rata, dari ujung depan sebelah kiri, kanan, tengah pojok kiri kanan, belakang nyempil sampai meja yang ada vas bunganya *ini kalo ketahuan*.

Dan saya yang duduk agak paling belakang pun bisa bernafas lega karena mendapat jatah jawaban yang sama, dalam waktu yang relatif cepat. Dan bisa dipastikan, semua jawaban akan relatif sama dengan nilai yang tidak jauh berbeda. Woo bocah ra nggenah! :)

Masih di SMA yang sama, suatu saat lagi trend di mana siswa tertentu memakai kacamata. Waktu itu memang Ian Kasela belum semoncer sekarang, tapi siswa di SMA saya sudah merintisnya terlebih dahulu. Kenapa harus pake kacamata? Ya, waktu itu sedang trend orang terkena penyakit mata atau istilah Jawanya belekan, ketiban bel. Penyakit mata yang bikin mata merah dan berair… Walhasil virus belekan itu dengan sangat cepat menyebar ke seluruh isi sekolah, padahal sumber penyakitnya waktu itu hanya dibawa oleh satu orang siswa. Bagi yang daya tahan tubuhnya tidak kuat, pasti gampang terjangkit. Saya? Alhamdulillah enggak, cuma senut-senut dikit, tapi nggak sampe terjangkit!

Dan lagi-lagi tentang mata. Pernah mendapat ucapan ini :“Oo, kebanyakan ngintip kali…” Itu di tujukan buat orang yang sedang sakit mata, nggak peduli belekan, kelilipan, kemasukan debu, sakit mata biasa, atau dikencingi kecoa. “Matamu timbilen yo..” pastinya dengan nada bercanda. Yaa, biasanya penderita sakit mata, timbilen dsb diasosiasikan suka ngintip orang mandi, hal-hal berbau porno dan nggak bener-nggak bener lainnya, walau sebenarnya juga tidak. Pun mitos itu tetep awet sampai sekarang.

Jadi apa kesimpulannya? Kesimpulannya adalah…

  1. Bila panjenengan mau nyontek harus pake kacamata biar nggak kena belekan dan nggak disangka suka ngintip orang mandi…
  2. Bahwa keburukan itu cepat sekali menyebar dan orang terkadang tidak menyadarinya, waspadalah!
  3. Conteklah Bila Suasana Aman.
  4. Apakah sekarang Anda sedang memakai kacamata ?
  5. Laporkan kepada guru bila distribusi contekan tidak lancar.
  6. Sebarkanlah kebaikan bukan keburukan apalagi belekan dan contekan.
  7. Temen saya si Mr.A itu sekarang di mana ya?
  8. Biarpun nilai cuma 9,5 yang penting hasil keringat sendiri.
  9. Jauhi Narkoba, Dekati Janda.
  10. Cucilah tangan sesudah mencontek.
  11. Jadi Anda sudah pernah ngintip siapa saja…?
  12. Rawatlah mata Anda supaya bisa ngeliat gerhana bulan total, Maret nanti.
  13. Bila sakit mata berlanjut segera hubungi dokter, dan jangan lagi menyontek apalagi ngintip orang mandi.

Lah sampeyan mau pilih kesimpulan yang mana, atau mau bikin kesimpulan sendiri aja po. Boleh-boleh.

© Ilustrasi: Entah!

6 comments ↓

#1 angga on 13.01.07 at 20:18

test komen juga..koyo panjenengan

#2 Gabrielle on 14.01.07 at 3:11

9. Jauhi Narkoba, Dekati Janda.

(*) Gimana kalo janda yang didekati malah bandar narkoba? :)

#3 asree on 14.01.07 at 12:30

Yah…nasib jadi anak berawalan huruf A plus pintar ya gituh fer (nyombong boleh dong!!!)Jadi inget juga pas SMA, ulangan Tata Negara….anak dibelakangku (apa sampingku ya?) rada2 eror gitu (sapa ya?? lupa!) Jadi jawaban tidak sampai ke semua anak dengan merata….Semakin ke belakang semakin rendah…dan aku pun sukses dielototin anak2 se baris…. Sial….

Soal sakit mata? Yah….pernah jadi bagian trend lah…untung pas liburan habis bagi rapot…jadi selamat…selamat…..

#4 Feri Gunawan on 15.01.07 at 10:29

Mungkin tidak semua anak “A”.. :)

#5 Herman Saksono on 15.01.07 at 12:36

Hahahaha!

Kenapa harus Ian Kasela?

#6 Feri Gunawan on 16.01.07 at 9:26

kan kereenn…… Oughhhh..daam daamm…?

Leave a Comment