27 Mei 2006

GENAP sudah tiga minggu pasca gempa 27 Mei 2006 kemarin. Masyarakat yang terkena musibah juga sudah mulai beranjak bangkit,walau terkadang juga masih sangat sulit.

Di tengah-tengah gempa susulan yang masih ada, kekhawatiran warga korban, termasuk saya masih saja ada. Banyak kejadian yang unik dan menarik seputar kejadian alam tersebut.Unik dan juga terkadang membuat geram buat sebagian orang.

1.Gerakan 3M
Ini bukan gerakan pemberantasan nyamuk ala pemerintah, tapi sebuah gerakan Mari Makan Mie atau lebih pas jika dengan sebitan Makan Mie Melulu. Pada hari-hari awal bencana memang makanan instan model seperti itulah yang menjadi menu handal bagi sebagian warga. Praktis, cepat dan agak mengenyangkan. Bantuan jenis tersebutlah yang juga menjadi favorit bagi sebagian dermawan, sehingga terkadang pada beberapa pos surplus stok mie. Berlebihan mie tepatnya.

Tapi ya sudah sangat beruntung masih ada orang yang mau berderma bagi korban. Apalagi ada posko bantuan dari Indomie yang menyediakan mie gratis bagi warga korban. Awalnya sih sangat membantu, tapi lama-kelamaan banyak warga yang memanfaatkannya seperti sebuah “warung gratisan” sehingga tiap sore ramai dengan orang yang membawa rantang demi sebuah mie dan setumpuk kardus mie masih menanti mereka di posko…

2.Bukan Korban Kok Minta Bantuan !
Sebuah fenomena yang terjadi tidak hanya di tempat saya, tapi juga banyak juga di tempat-tempat lain. Kalau ditilik secara mental dan kejiwaan memang semua menjadi “korban” akibat bencanan ini. Tapi tengoklah rumahnya, wah masih utuh! Hanya genteng kok yang mlorot.

Tetapi giliran ada bantuan datang justru merekalah yang paling aktif dan rajin mengumpulkan bantuan yang lebih tepat jika diberikan kepada yang rumahnya hancur dan ambruk. Apa nggak malu ya? Sedangkan orang yang terkena musibah lebih parah saja justru bersikap lebih baik dari mereka. Sepertinya orang-orang seperti itu hanya memanfaatkan keadaan saja untuk mengumpulkan dan menimbun stok bantuan demi kepentingan mereka sendiri.

3.Wisata Gempa
Bukan menuduh tapi memang banyak yang sekedar berkunjung dan melihat-lihat saja di seputar kejadian. Wira-wiri ora nggenah. Sempat pula ada tulisan di lokasi kejadian yang berbunyi: “Kami Bukan Tontonan, Kami Butuh Bantuan !”

4.Penjarahan
Sebuah momen yang sangat tepat bagi para pencuri yang sekedar memanfaatkan bencanan ini. Ketika penerangan tidak ada, suasana yang masih kacau menjadikan peluang yang sangat besar bagi mereka. Nggak di pasar, toko bahkan di rumah-rumah yang berbahaya dan hampir rubuh pun tak luput dari incaran mereka.

Siapakah para penjarahnya? Banyak! Bahkan para korban sendiri pun ikut menjarahnya. Ada juga tuh penjarah impor yang datang dari luar kota untuk sekedar mengacaukan suasanan yang sudah balau. Dengan kedok sukarelawan?

5.Isu Tsunami
Peristiwa gempa plus tsunami di Aceh ternyata masih terlalu membekas bagi bangsa Indonesia, termasuk warga Jogjakarta. Terbukti beberapa saat setelah terjadinya gempa terhempus kabar bahwa akan ada tsunami, warga beramai-ramai mengungsi dan mencari tempat yang lebih tinggi dan aman. Macam-macam lah ada yang berlarian dengan tikarnya, naik truk, mobil dan sebagainya.

Maaf saya tidak termasuk. Untungnya saat itu kita masih dapat berfikir jernih sehingga tidak terpengaruh isu yang belum tentu kebenarannya. Dan benar saja, isu tersebut sengaja dihembuskan hanya untuk membuat warga semakin cemas sehingga dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk sekedar mengacaukan suasana atau ya sekedar mencuri dan menjarah…

6.Tentang Penghuni Terakhir
Hidup satu atap dengan banyak orang,otak,kemauan dan emosi yang berbeda membuat suasana yang sudah panas semakin menjadi panas. Itulah yang mungkin dirasakan saat berbagai tipe manusia hidup di tenda-tenda pengungsian.Semua jadi terlihat mau menangnya sendiri, semua jadi emosian.

Dalam kondisi seperti itu memang terbuka kemungkinan yang sangat lebar untuk setiap orang menjadi pemarah. Tinggal bagaimana kita bisa mengolah emosi yang ada dan menjadi orang yang sabar menhadapi cobaan ini. Yah mirip-mirip Penghuni Terakhir gitu. Semua watak asli tiap oarng jadi kelihatan walaupun sebelumnya kita sudah mengenalnya.

7.Distribusi Bantuan yang Tidak Merata
Proses penyebaran bantuan di daerah bencana terkadang terlalu berbelit-belit dan banyak birokrasi. Pake KTP lah, surat ini itu dll. Pun ketika datang bantuan dari donatur yang disalurkan melalui instnsi pemerintahan desa belum menjadi jaminan bantuan akan sampai ke tangan yang berhak.

Bahkan ada tuh yang bantuan yang disunat dulu sebelum sampai ke warga. Bantuan yang OK malahan datang dari donatur pribadi yang langsung menyalurkan ke korban bencana. Jadi bener-bener sampai ke yang berhak. Itu pula yang terjadi di daerah saya. Makasih…

8.Polisi Datangnya Terakhir
Seperti di film-film Indonesia, ketika suatu peristiwa kejahatan telah berakhir dan telah makan banyak korban, datanglah sang POLISI. Tet..Tet..Tet..!!! Nggak tahu juga apa kategori tugasnya yang beda atau gimana, tapi memang seperti itulah yang terjadi. Sang Polisi datangnya paling akhir dibandingkan dengan angkatan lainnya kayak TNI dll. Tapi gak boleh berburuk sangka ding, ntar ditilang lagi.

9.Bantuan Rp.30 Juta, Rp.20 Juta atau Rp.10 Juta ?
Nggak tahu! Nggak jelas juga!

10.Akhirnya Kita Sendiri Juga yang Harus Bergerak dan Berusaha
Yak benar. Iya sudah benar!

3 comments ↓

#1 u know donk who am i on 17.06.06 at 15:05

ck…ck…ck….
kadang2 musibah emang bawa hikmah dan berkah…selamat berkreativitas…cerpennya tu banyak banget sub title nya..bro…
mo kalahin cerpen SEMUT ya…hehahahaa
‘n apa mo kalahin harry potter…nyak?

SALUT!

#2 eyanks on 05.09.07 at 16:14

sungguh luar biasa.. saya sangat menghayati kata demi kata yang keluar dari lubuk hati. saya bersama WALHI Jogjakarta telah berada disana di hari H. karena kebetulan keluarga sy juga tinggal di jogja. rumah sy pun satu dari 3 rumah yg ambruk..

mari kita terus melakukan monotoring dan menyampaikan kepada publik, apa yang terjadi..
warga mempunyai hak atas kehidupan yang bermartabat.
sila kunjungi webblog ku di : http://www.bencanaekologis.blogspot.com

#3 Refleksi Satu Tahun Gempa Jogja — feri gunawan on 10.04.08 at 11:39

[...] ini setahun yang lalu… |27 Mei 2006|05:55|00:00:57|Jogja Setahun Lalu|27 Mei Tahun Lalu|Refleksi Satu Tahun Gempa Jogja:Jurang Yang [...]

Leave a Comment